MagzNetwork

Aborsi? (IQRA’ 2)

Diposkan oleh Sukron Abdilah | Rabu, November 11, 2009 | , | 0 komentar »

Cericit burung di pekarangan masjid al-Munawarah terdengar indah mengalun. Kebiasaan kami; dua temanku, aku dan Ilman Nursyifa, selalu berdiskusi selepas shalat subuh. Biasanya, diskusi ini akan berakhir pada pukul 6.00 WIB. Dan, kami bertiga harus bersiap-siap menuju ke sekolah.

“Apakah boleh seseorang melakukan aborsi? Bagaimana pandangan menurut Al-Quran? Tolong jelaskan, karena banyak terjadi praktik aborsi di kalangan anak muda sekarang. Khususnya teman-temanku di sekolah, pak kyai?” tanyaku kepada Ilman Nursyifa mengawali topik diskusi pada waktu subuh itu.

Janggut Ilman Nursyifa terlihat bercahaya keputihan. Air wudhu saya rasa pasti selalu membasahinya. Selain seorang pengusaha, ia juga seorang lulusan sebuah perguruan tinggi. Rajin menulis, berdiskusi dengan kaum muda, dan gandrung akan perubahan. Asyiknya lagi, dia bukan tipe kyai panatis. Sedemikian terbukanya, hingga ringkak polahnya terlihat dinamis.

“Tergantung tempat dan kondisi, Bil.” Jawabnya.

Ooo…iya…namaku Abil Ma’rufie. Kedua temanku, memiliki nama Ibnu Halah dan Askar Madani. Kami bertiga satu sekolah dan kebetulan tinggal di masjid al-Munawarah dekat sebuah perguruan tinggi Islam.

“Jadi boleh dilakukan dan haram dilakukan kalau kondisi menuntutnya” aku mencoba mencerna maksud omongan Ilman Nursyifa.

“Betul. Tapi, asal sebuah pembunuhan dalam agama apapun itu terlarang. Coba kamu buka kitab Al-Quran itu” Dia menyuruhku membuka kitab Al-Quran yang sudah dilengkapi tafsir dan terjemahannya.

Dia mengambil nafas sedalam 3 cm kemudian menuliskan terjemahan ayatnya sbb, “Karena dosa apakah dia (anak perempuan) dibunuh (dikuburkan hidup-hidup)?” (QS At-Takwîr [81]: 9).

“Wah, praktik aborsi ujung-ujungnya sama dengan membunuh. Kalau tanpa ada alasan yang kuat, berkaitan dengan mati atau hidupnya seseorang, aborsi tidak boleh dilakukan. Maksudnya gimana kyai?” Desakku sedikit penasaran.

Ilman Nursyifa tersenyum kecil. Mungkin dia kagum kepadaku karena memiliki rasa ingin tahu yang gede. “Ayat Al-Quran yang saya tulis tadi, sudah jelas, kan, memaparkan membunuh merupakan tindakan yang dibenci Tuhan. Saking tercela dan terkutuknya membunuh, dalam ayat tersebut, Allah Swt. menyusun kalimat berbentuk pertanyaan.”

“Tahu tidak,” lanjutnya, “kenapa Allah menggunakan kalimat pertanyaan dalam redaksi ayat di atas? Yups, karena pelakunya — siapa pun dia — pasti melanggar dan akan mendapat murka-Nya. Ketika dalam ayat Al-Quran redaksinya mempertanyakan tentang perbuatan tercela, ini mengisyaratkan betapa besar murka Allah. Sehingga, si pelaku tidak pantas diajak berdialog oleh Allah. Menurut pakar tafsir, redaksi Surah At-Takwir, “Disebabkan dosa apakah anak perempuan itu dibunuh?” bukan saja mengisyaratkan larangan pembunuhan anak. Tapi, mengajak si pembunuh menyadari keburukan perbuatannya. Bahkan, ia harus memahami mengapa pantas menerima hukuman.”

“Bagaimana Bil, Ibnu, Aksar? Apakah masih harus dilanjutkan tafsiran ayatnya ?” tanyanya.

“Lanjutkan….” Ujar kami bertiga serentak menjawab.

Tanpa pikir panjang, dia pun melanjutkan omongannya, “Maka ketika di Arab jahilyah terjadi penguburan anak-anak perempuan awal surah ini menyebutkan, Tiap-tiap jiwa akan mengetahui dampak baik atau buruk dari apa yang dikerjakannya (QS At-Takwîr [81]: 14). Nah, berarti, pembunuhan bayi atau anak perempuan pada masa turunnya Al-Quran, akan mendapat hukuman di dunia dan akhirat. Kalau saja dahulu perbuatan itu dilarang secara tegas dalam Al-Quran, berarti sekarang juga masih dilarang oleh-Nya, dong.”

“Para pakar berdiskusi tentang boleh-tidaknya mengaborsi kandungan sebelum ditiupkan ruh kepada janin, yakni sebelum 120 hari dari pertemuan sperma dan ovum. Diskusi ini tidak berkaitan dengan masalah dosa atau tidak. Tapi tentang kadar dosa dan sangsi hukum yang harus dikenakan kepada para pelaku. Jadi, jangan menduga bahwa aborsi dibolehkan. Ia tetap dilarang dan dibenci.”

“Hanya saja kadar dosanya bisa berbeda dengan dosa pembunuhan setelah kelahiran.

Sementara itu, sebagian pakar Islam membenarkan praktik aborsi untuk menyelamatkan nyawa ibu, dengan syarat dokter yang tepercaya menduga keras, kehamilan akan membahayakan jiwa seseorang. Misalnya, kalau diduga keras janin akan lahir dalam keadaan cacat berat, atau mengidap penyakit serius. Sehingga kalau kelak lahir dan dewasa, ia tidak berfungsi sebagaimana layaknya seorang manusia.”

“Nah, tanpa ada alasan yang kuat untuk menyelamatkan seseorang dari kematian, praktik aborsi dilarang agama. Jadi, jangan sekali-kali melakukan aborsi tanpa alasan yang kuat. Dan, yang paling penting adalah menjauhi pergaulan bebas karena bisa memicu seseorang menggugurkan kandungannya. Dunia berkata apa dong, kalau tetap melakukan praktik aborsi tanpa alasan yang kuat.”

Penjelasannya itu cukup memuaskan hati kami bertiga. Seraya mendekat kepada kami, dia mengakhiri khutbahnya saat itu. “Bukankah mengandung, melahirkan dan menyusui adalah jihad bagi seorang ibu? Kalau seorang ibu tidak mau menanggung risiko kematian karena mengandung dan melahirkan anak, sama saja dengan tidak memercayai takdir-Nya. Sebab, hidup dan mati berada dalam genggaman Allah Swt. Mahya wa mamati lillahi rabbilalamin!”

“Iya..ya pengecut dong”, ujar si Askar.

“Huss….nggak boleh bilang gitu”, Ibnu menimpali.

“Hmmm….” Aku hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan pak kyai, seorang pengusaha muda yang pintar dan mengagumkan itu. [Bersambung]


KPK dan Semangat Antikorupsi

Diposkan oleh Sukron Abdilah | Senin, November 09, 2009 | | 0 komentar »

KPK di dadaku/KPK kebanggaanku/Ku yakin kebenaran pasti menang/Kobarkan semangatmu/Tunjukkan kebersihanmu/Ku yakin kebenaran pasti menang.
(syair lagu “KPK di Dadaku”)

TULISAN ini diinspirasi lagu berjudul “KPK di Dadaku” yang dibuat sejumlah artis peduli Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan musisi seperti Bino, Cholil, Once, dan Fariz RM bersama komunitas Cicak (Cinta Indonesia Cintai KPK). Di tengah bermunculan lagu bertemakan KPK, lagu “KPK di Dadaku” ini ikut menyalakan spirit gerakan antikorupsi di Indonesia. Musisi Kadri dan Jimmo dari grup musik indie Kadrie Jimmo and Prinzes of Rhythm malaham menggebrak dengan meluncurkannya dalam bentuk ringtones.

Jumlah dukungan di dunia cyber melalui Facebook terhadap KPK melebihi angka setengah juta facebookers. Malahan dukungan berbagai komunitas blogger, organisasi mahasiswa, ormas, LSM antikorupsi, dan beberapa tokoh masyarakat di berbagai kota kian merebak. Ini mengindikasikan warga Indonesia masih memiliki spirit antikorupsi di dalam dirinya. Pertanyaannya, akankah perseteruan KPK-Kepolisian mematikan spirit antikorupsi di dalam diri generasi mendatang? Siapakah yang memenangi perseteruan ini? Si “cicak” ataukah si “buaya”?

“Cicak vs buaya”

Istilah “cicak vs buaya” digunakan media guna menggambarkan gesekan antara lembaga KPK dan Kepolisian RI. Istilah “cicak vs buaya” muncul dari Kepala Badan Reserse dan Kriminal Susno Duadji saat dimintai komentar oleh wartawan terkait KPK yang hendak mengusut kasus Bank Century tapi terbentur langkah kepolisian yang melakukan hal sama.

Entah apa alasannya, menggambarkan perseteruan KPK-Kepolisian dengan sebutan “cicak vs buaya”. Yang pasti, saya ingat dalam bahasa Sunda “cakcak bodas” digunakan untuk menyebut orang yang mencuri pembicaraan dan menyampaikannya pada pihak tertentu. Kalau ibu-ibu sedang menggunjing seorang tetangga, misalnya, tentu saja akan berujar, “Ssst…ulah tarik-tarik teuing bisi aya cakcak bodas!”

Penjelasan menarik soal kategorisasi simbolik berupa “cicak” untuk mengistilahkan KPK dilontarkan Arswendo, ketika menjadi pembicara pada acara Democrazy di sebuah stasisun TV Swasta beberapa hari lalu. Waktu itu kurang lebih dia bilang, “kalau benar KPK dianalogikan dengan cicak. Maka, lihatlah cicak yang tertangkap. Ketika cicak itu tertangkap, ia akan meninggalkan ekor. Tahukah Anda, yang menggeliat-geliat kuat itu bukan tubuh sang cicak, melainkan ekor yang sudah putus?”

Artinya, kasus penangkapan wakil ketua KPK nonaktif, Bibit Samad Riyanto dan Hamzah M. Chandra tidak lantas akan menyingkirkan semangat pemberantasan korupsi di Indonesia. Semangat antikorupsi di Indonesia tidak lantas padam dan tenggelam. Pendidikan antikorupsi kepada generasi muda bangsa ini mesti terus berjalan secara sistematik, terencana dan terarah. Relakah KPK dianalogikan dengan cicak? Saya harap KPK tidak akan rela disebut cicak, kalau tahu bahwa “cakcak bodas” dalam bahasa Sunda kerap diartikan sebagai pengadu domba.

Biarlah bahasa berfungsi seperti biasa. Tapi lagi-lagi, penggunaan bahasa tergantung selera subjektif si penutur atau penulis, karena setiap manusia – meminjam istilah Nietzche – memiliki kekuasaan penuh berkehendak (the will of power). Seperti yang terjadi pada kata “cicak” yang berkembang di berbagai media nasional maupun lokal. Cicak di Indonesia bukan salah satu hewan reptil yang kecil, pandai merayap, dan menyergap nyamuk. Tapi cicak di negeri kita adalah singkatan dari “Cinta Indonesia Cintai KPK”. Ingat, KPK bukan cicak. KPK adalah KPK!

Imbas perseteruan

Perseteruan KPK-Kepolisian tentunya akan berimbas pada sektor ekonomi khususnya di dunia usaha. Kasus ini akan mengakibatkan penurunan angka investasi karena faktor ketidakamanan di negeri Indonesia dari laku korup beberapa pihak pejabat negara. Pemilik modal memerlukan kepastian hukum atas pemberantasan korupsi di Indonesia, sehingga berani berinvestasi di negeri ini. Kalau saja perseteruan ini berlanjut, investor akan memahami berinvestasi di Indonesia memerlukan kedekatan dengan penguasa negara.

Kita tidak mengharapkan peringkat Indonesia sebagai negara yang menjamin kemudahan usaha menjadi anjlok. Padahal September lalu survey Doing Business 2010, yang diumumkan International Finance Corporation, peringkat Indonesia naik ke urutan 122 dari 128 pada tahun sebelumnya dari 183 negara yang disurvey. Oleh karena itu perlu kepastian hukum dalam menyelesaikan konflik antar lembaga negara ini agar pencapaian di bidang ekonomi dapat tetap terjaga pada masa mendatang.

Pada 2008 yang lalu, seperti di tulis dalam “Tajuk Rencana” (Pikiran Rakyat, 4/11), menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM), Indonesia mencatat hasil positif dalam menarik investasi. Sejak Januari hingga November 2008 realisasi penanaman modal mencapai 16,08 miliar dollar AS termasuk 14,2 miliar dollar AS penanam modal asing. Prestasi ini adalah sebuah nilai investasi terbesar di Indonesia sejak 1990-an.

Kasus buram yang menimpa penegakan hukum di negeri ini disinyalir akan berpengaruh pada mendungnya dunia perekonomian ketika tidak cepat diselsaikan. Para penanam modal sangat memerlukan kejelasan dan komitment pemerintah SBY-Boediono dalam memberantas praktik korupsi di Indonesia yang bertengger sebagai negeri terkorup. Rekaman Anggodo seakan membuat kita sadar hukum di Indonesia memiliki filosofi, “Nggak ada uang, hukum menendang. Ada uang, hukum berubah jadi penyayang.”

Berarti, produk hukum di negeri kita, hanya berpihak kepada orang dekat, berduit, dan memiliki relasi pada setiap lembaga kenegaraan dan para pejabatnya. Akhirul kalam, mari kita gelorakan gerakan antikorupsi dan baca kembali syair yang dikutip dari lagu berjudul, “KPK di Dadaku”. KPK di dadaku/KPK kebanggaanku/Ku yakin kebenaran pasti menang/Kobarkan semangatmu/Tunjukkan kebersihanmu/Ku yakin kebenaran pasti menang. Sekian!

Haji, "Legenda Pribadi" Sang Janda

Diposkan oleh Sukron Abdilah | Jumat, November 06, 2009 | | 0 komentar »

Aku tak mau dibilang nepotis ketika menulis cerita ibuku. Tapi, apa boleh buat untuk mewujudkan mimpinya naik haji, aku harus menuliskan kisahnya. Jujur saja, sebagai seorang anak aku merasa gelisah melihat keinginan ibu yang menggebu. Sejak sepuluh tahun yang lalu, ia selalu mengutarakan keinginannya itu padaku. Menginjak usianya yang ke 60, sekarang ia malah terus mengutarakan keinginannya menunaikan ibadah Haji.

Aku hanya bisa melerai kesedihannya dengan sejuta kisah para tamu Allah. Aku juga kerap menjelaskan padanya, bahwa Allah akan memanggil hamba-Nya. Kalau belum saatnya terpanggil, seseorang tidak akan pernah menginjakkan kakinya ke tanah suci. Meskipun ia tergolong kaya raya. Keinginan yang kuatlah yang dapat mengantarkan mereka bercengkrama asyik dengan-Nya di depan Ka’bah.
Itulah kata-kata yang selalu aku sampaikan padanya.

“Ibu ngiri dengan orang-orang kaya. Mereka hampir setiap tahun pergi naik Haji. Bahkan, ada yang sampai sepuluh kali. Umur ibu sudah mendekati 60 tahun. Sebelum ibu menyusul ayahmu, ingin rasanya pergi ke tanah suci. Ibu ingin merasakan bagaimana nikmatnya shalat di Masjidil haram, thawaf, sa’i, dan jumrah.” Jawab ibuku sembari menerawang haru ke tanah suci, Mekkah.

“Sabar saja bu. Kalau sudah saatnya juga nanti dipanggil Allah untuk pergi ke sana.” Ujarku sambil berusaha meredakan kesedihannya.

Aku jadi agak berdosa ketika tidak bisa berbuat apa-apa untuk mewujudkan mimpi ibu. Maafkan aku, bu, sekarang hanya bisa berdoa saja. Untuk mengumpulkan puluhan juta ongkos ke Mekkah aku belum bisa bu. Maafkan aku ibu…! Melihat usiamu yang semakin menua, kadang darah tinggimu kambuh, aku merasa serba salah. Pasti, keinginan pergi ke haji pangkal penyebabnya. Disamping itu pasti juga engkau memikirkan kedelapan anak-anakmu yang belum bisa mandiri.

Akankah ada sepercik keajaiban yang dapat mewujudkan keinginan ibu aku? Jikalau ada, aku rela menjadi budak belian orang tersebut. Sumpah aku akan melakukan apa saja untuk membahagiakan sang ibuku tercinta. Asal, tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman!

***

Ibadah Haji dalam keyakinan setiap muslim adalah puncak dari segala ibadah. Setiap muslim, tak akan merasa sempurna keislamannya tatkala tidak berhasil pergi ke baitullah untuk berhaji. Meminjam istilah Paulo Coelho, itulah yang dinamakan dengan “legenda pribadi”. Mirip majikannya si Santiago yang terjebak di tengah padang Pasir, berjualan lampu dan barang furniture, ketika dirinya akan pergi menunaikan haji. Majikannya Si Santiago, melupakan keinginannya pergi berhaji karena terbuai nafsu keduniawian. Memunguti serak keserakahan yang terus membentuk fatamorgana mata.

Ketika mengingat kisah dalam novel The Alchemist itu aku terhenyak kaget. Akankah ibu aku bernasib sama dengan sang majikan si Santiago tadi? Oh…tidak! Aku pikir tidak akan pernah terjadi seperti yang menimpa sang majikan itu. Majikan si Santiago kaya raya. Tinggal sebentar lagi mencapai tanah suci.

Sementara ibuku? Ia berada jauh dari Arab Saudi. Jaraknya ribuan kilo meter. Kalau tak ada lautan yang memisahkan negeri ini dengan negeri Arab, dia pasti rela berjalan kaki menempuh ribuan mil perjalanan menuju baitullah. Akung, keinginan menggebu ibu aku hanya terpendam tak asyik di lubuk hatinya yang terdalam. Ketika musim haji tiba dan televisi banyak memberitakan jemaah haji, keinginan itu meledak ke permukaan.

Seperti pesan singkat dari kakak aku kemarin, “Ibu kambuh lagi darah tingginya. Alhamdulillah, sekarang sudah agak mendingan. Ya, si ibu dan keluarga mendoakanmu semoga sukses karirnya.”
Aku baru teringat bahwa ini adalah musim Haji. Sekitar 250 ribu lebih jamaah asal Indonesia pergi ke tanah suci. Pasti, darah tinggi ibu aku kambuh lagi. Ia ingin pergi ke tanah suci sejak sepuluh tahun yang lalu. Sebagai anaknya, yang bekerja serabutan, aku hanya bisa meneteskan air mata kesedihan. Kadang, aku menyalahkan takdir. Kenapa aku tidak dijadikan pejabat partai yang dengan mudah dapat pergi-pulang ke negeri Arab. Astaghfirullahaladzim! Eling ah….! Bisik nuraniku mengingatkan.

Aku terdiam. Rasa kesal itu datang kembali. Kenapa ibuku tak seberuntung tamu Allah lainnya. Si tukang becak, yang pergi haji karena bantuan sebuah lembaga zakat. Si ibu tukang mencuci pakaian yang dimodali pergi haji oleh sang pengusaha. Dan, Haji Pandi yang menjual sawah pemberian ayah angkatnya untuk pergi ke tanah suci. Ah, tapi saya yakin kekuatan doa begitu dahsyat. Seperti dibilang Paulo Coelho, “Barangsiapa yang menginginkan terwujudnya suatu keinginan, segenap alam akan membantu mewujudkannya.”

Terima kasih Coelho, kalimat bijaksanamu mengobati keinginan menggebu ibuku. Seperti darahnya yang mendidih minggu kemarin. Menjadi reda dan agak baik kondisinya ketika aku membalas pesan singkat ibuku dengan menyertakan kalimat saktimu itu.

Satu lagi yang mesti diperhatikan. Pergi ke haji memerlukan kesiapan keimanan, mental, fisik, dan duit.

Tanpa itu semua, banyak orang kaya raya tak bisa pergi haji selama hidupnya. Di sisi lain, ada orang-orang miskin yang berprofesi sebagai kuli bangunan, buruh pabrik, dan warga miskin mampu pergi haji karena mereka rajin menabung. Itulah kekuatan niat. Sebuah dorongan yang mampu menggerakkan setiap orang untuk mewujudkan legenda pribadinya. Legenda pribadi bagi seorang muslim adalah pergi ke haji.

Maka, setelah itu ibuku menukas singkat, “mulai hari ini harus ibu niatkan pergi ke haji dan menyisihkan keuntungan dari bisnis kecil-kecilan. Yang terpenting adalah ibu sudah menekadkan pergi ke haji.”

“Nah begitu dong, bu. Jaga kesehatan, jangan makan daging kambing lagi ya?”

“Hehe…kalau di Arab Saudi banyak daging kambing ya..”

Aku hanya menggelengkan kepala. Ibuku ternyata masih menyimpan kerinduan menggunung di dadanya. Kerinduan untuk bersujud di depan rumah-Mu, ya Allah. Mulai besok aku akan mencari informasi tentang ongkos naik haji di internet. Doakan aku ya bu biar bisa tambah-tambah ongkos naik hajinya?????

Intermezzo Keberagamaan

Diposkan oleh Sukron Abdilah | Kamis, November 05, 2009 | , | 0 komentar »

Pada tahun yang lalu, saya pernah dikirimi Majalah Madina. Katanya, sih, majalah ini sekarang sudah gulung tikar. Sangat disayangkan, karena secara substansial majalah ini menghadirkan Islam yang ramah terhadap pluralitas pemahaman. Dengan kiriman majalah ini juga, saya bisa ber-Islam sesantai mungkin. Apalagi, ketika membaca rubrik Humor. Saya jadi tidak memandang Tuhan dan ajaran Islam sebagai dua kekuatan yang menyeramkan.

Humor - dalam perspektif psikoanalisa Freud - adalah media untuk mengeluarkan sejumput keruwetan hidup (termasuk soal teologis) yang direpresi ke alam bawah sadar. Saya, secara pribadi merasa bahwa beban hidup sedikit berkurang ketika membaca dialog-dialog segar di dalam rubrik Humor.

Tuhan, malaikat, Nabi dan ulama dalam rubrik humor serasa dijungkirbalikkan. Keempat penentu eksistensi sebuah agama itu berubah menjadi sesuatu yang terjangkau dan kadang digambarkan sebagai manusia biasa. Tak terkecuali dengan Tuhan. Saya, yang tidak fundamental dalam ber-Islam merasa itu sebagai hal biasa. Tidak tahu dengan saudara-saudara seiman yang menganut fundamentalisme Islam.

Pertanyaannya, apakah ketakterbatasan zat Tuhan bisa didobrak oleh keterbatasan logika manusia? Saya melihat ada semacam menempatkan Tuhan sebagaimana halnya manusia yang bisa dikibuli dalam rubrik Humor. Padahal ketika kita menipu Tuhan, Dia bakal membalas menipu kita. Dalam bahasa lain, Dia tidak bisa ditipu dan dikibuli. Sebelum kita menipu dan mengibuli-Nya, secepat kilat Dia akan menipu dan mengibuli kita.

Karena Tuhan Mahakuasa, tak pantas rasanya jika bisa dikalahkan oleh manusia, malaikat, dan kaum pendosa. Tapi, karena Tuhan yang Mahatahu atas kondisi makhluq-Nya saya pikir Dia tidak akan marah ketika di rubrik Humor dikibuli dan dikalahkan umat manusia. Intermezzo keberagamaan itu memang perlu agar kita santai mengibadahi-Nya. Tidak grasak-grusuk. Bukankah tumaninah dalam ibadah adalah prasarat esoteris yang diberikan sang Nabi?

Tetapi ruginya orang yang suka ngelucu di hadapan Tuhan adalah ketika Tuhan tahu bahwa kita muslim humoris. Hehe, tentunya ibadah kita akan dipandang sebagai ketaksungguh-sungguhan. Misalnya suatu hari kita menunaikan shalat Tahajud dan berdoa. Waktu itu malaikat tahu bahwa kita sedang ada kebutuhan. Serta merta Tuhan dan malaikat bareng menjawab setiap permintaan yang kita panjatkan, “ah, paling juga kamu sedang bercanda ya!”




Etika dan Moral Ilmu Pengetahuan

Diposkan oleh Sukron Abdilah | Kamis, November 05, 2009 | | 1 komentar »

Ilmu dalam perspektif Aristoteles tak mengabdi pada pihak lain. Ilmu digeluti umat manusia demi ilmu itu sendiri. Dikenallah ucapan, “primun vivere, deinde philoshopori” berjuanglah terlebih dahulu, baru boleh berfilsafat. Ilmu hadir untuk kepentingan umat manusia. Sehingga dengan tesis inilah, sebuah ilmu memiliki dasar tujuan. Etika dan moral adalah sebuah nilai. Muncul persoalan problematis, “ketika nilai mengerangkeng ilmu pengetahuan, apakah ilmu akan mengalami perkembangan?”

Pertanyaan tersebut, tentunya memiliki ragam jawaban. Tergantung apa yang dijadikan sebagai landasan berpikir seseorang. Bagi kaum materialistik-rasional-dan empirisme murni, ilmu mesti bebas dari berbagai nilai. Dari moralitas dan etika yang mengerangkeng. Jean Paul Sartre, menyebut nilai sebagai penjara bagi kaum berpikir atau seorang ilmuwan.

Akan tetapi, bagi kalangan agamwan atau kaum spiritualis dan humanis, mereka lebih mengedepankan azas kemanfaatan. Dalam khazanah filsafat dikenal dengan moral atau aliran utilitiarisme (mementingkan banyak orang). Dengan landasan berpikir seperti inilah, peran etika dan moral sangat kental sekali sehingga selalu mempertanyakan hasil produksi ilmu pengetahuan bagi umat manusia. Secara sosiologis mungkin kita mengenal madzhab fungsionalisme. Mereka mempertanyakan segala produk manusia, “apakah bermanfaat bagi kehidupan manusia ataukah tidak.”

Filosof beragama biasanya, menempatkan kebenaran berpikir manusia berada di bawah kebenaran transenden. Sebagai sebuah produsen moralitas dan etika, tak bisa disangkal bahwa doktrin agama akan mengarahkan seseorang untuk merefleksikan penemuan atau penciptaan sebuah ilmu. Euthanasia, aborsi, kloning dan penerbangan ke bulan atau produksi tenaga nuklir merupakan beberapa contoh hasil perkembangan ilmu pengetahuan. Untuk menciptakan tatanan manusia yang lebih baik dan beradab, ketidakmanusiaan merupakan pelanggaran terhadap etika seorang ilmuwan. Profesi dokter di Indonesia misalnya, terbatasi oleh etika-aturan yang terakumulasi dalam etika profesi dokter. Tidak dibenarkan, misalnya, seorang dokter yang sedang melakukan penelitian virus HN51 menyebarkannya ke lingkungan masyarakat sekitar untuk mencari obat penawarnya.

Moralitas dalam filsafat ilmu, merupakan wasit yang berfungsi sebagai pembentuk sikap hidup sang ilmuwan. Ini berguna bagi pembangunan hubungan yang harmonis antara dirinya dengan orang lain.